JADI GURU MUDA, SIAPA TAKUT ?
Zaman
sekarang masih punya cita-cita jadi guru? Bukan itu yang seharusnya
dipertanyakan, nyatanya zaman semodern dan secanggih ini minat generasi muda
cenderung condong pada profesi keguruan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan
terdapat banyaknya mahasiswa atau mahasiswi jurusan keguruan dan ilmu
pendidikan. Mengapa demikian? Banyak sekali alasan yang muncul ke permukaan,
seperti karena banyaknya tenaga guru yang dibutuhkan di daerah tertentu, ada
yang mengatakan karena menjadi seorang guru itu akan dihormati, ada juga yang
ingin menjadi guru karena salah satu orang tuanya juga seorang guru, dan juga
adanya apresiasi profesi guru dari pemerintah.
Namun berbeda dengan kondisi diatas,
banyaknya peminat profesi guru membuat para
remaja masa kini tidak lagi melihat guru sebagai sebuah profesi yang
menjanjikan di masa depan. Sehingga akan menyebabkan rendahnya jiwa mengajar
para pemuda ini ditambah lagi dengan rendahnya kesejahteraan guru sehingga
membuat profesi guru tidak lagi menjadi daya tarik bagi para remaja. Contohnya
saja guru honorer yang mengajar salah satu sekolah di Kecamatan Bandar, honor yang didapatnya hanya
Rp.300.000,- per bulan meski lulusan sarjana. Padahal dalam Undang undang Nomor
14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 14 ayat (1) huruf a, menyatakan
bahwa guru berhak mendapat penghasilan di atas kebutuhan hidup minimal dan
jaminan kesejahteraan sosial.
Disamping karena hal tersebut yang
harus dipertanyakan adalah, Apakah mudah menjadi seorang guru bagi kaum muda?
Yang umumnya masih suka main-main, kurang fokus, “alay”, labil, dan kurang
tanggung jawab karena pada dasarnya jiwa muda masih sangat berapi-api dan
terombang-ambing.
"Sesungguhnya
Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah." (HR Ahmad,
Thabrani dalam al-Mu`jamul Kabir dan lainnya).
Kata
shabwah dikaitkan dengan pemuda pada hadis di atas, sebagai pemuda yang tidak
memperturutkan hawa nafsunya. Sebaliknya, dia membiasakan diri melakukan
kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.
”Kamu adalah
umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah
yang munkar dan beriman kepada Allah…!” (QS. Ali Imran : 110). Berdasarkan hadist dan firman Allah diatas, dapat kita
cermati bahwa profesi guru itu adalah salah satu kemuliaan dimana menjadi
seorang guru itu akan juga menjaga tabiat kita. Dan dengan menjadi guru muda
kita akan mengurangi waktu kita yang sia-sia, karena menjadi seorang guru akan
menyibukkan diri kita dengan hal-hal yang berguna, rela meninggalkan kenyamanan
hura-hura masa remaja, namun penuh inspirasi. Semua itu untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut memajukan pendidikan Indonesia. Jadi jangan takut
menjadi guru muda.
Inilah beberapa alasan menjadi guru muda:
Ø Kita
muda, berwawasan, penuh inspirasi, dan dinamis. Akan menjadikan kita mudah
untuk belajar dan berkomunikasi dengan orang banyak. Memudahkan kita disenangi
anak-anak.
Ø Karena
ketika profesi guru masih belum sungguh diapresiasi oleh negara secara
profesional, kehadiran para guru di tengah masyarakat, terutama masyarakat
pedalaman dan pendesaan sangatlah diapresiasi. Mungkin dari segi materi, gaji
guru tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi kebutuhan
primer makin meningkat belum lagi kebutuhan sekunder, tetapi bisa dikatakan
lumayan karena dengan bergelar “masih muda” paling tidak guru muda sudah
meringankan beban orang tua.
Ø Menjadi
guru muda adalah cara untuk meneladani A.K.A.R. karena dari situ kita dapat
belajar untuk memiliki Ambisi untuk
tidak pantang menyerah, belajar Konsisten
dalam menjalani tugas, belajar berAdaptasi
dalam segala kondisi dan keadaan, menjadi satu dengan lingkungan dan alam. Yang
terakhir Rendah Hati menjadi pokok
penting diatas segala hal.
Ø Pendidikan
adalah tanggung jawab kita semua. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, guru,
dan orangtua siswa, melainkan tanggung jawab setiap yang terdidik. Karena
seringkali ilmu sederhana yang kita punya jadi sangat luar biasa bagi mereka
yang membutuhkannya. Di dunia ini banyak orang yang pintar membaca dan menulis,
tetapi hitunglah berapa orang yang mau mengajarkannya. Berapa banyak orang
terdidik yang mau mendidik.
Ø Akan
ada kepuasan batin tersendiri karena “DIGURUKAN”
oleh masyarakat jauh lebih terasa. Guru mendapatkan tempat terhormat di hati
masyarakat dan mantan murid karena dedikasi mereka untuk pendidikan bukan
terbatas pada ruang kelas, kompleks sekolah, melainkan menjangkau lingkungan
sekitar. Guru menjadi panutan dalam kehidupan bersama.
Ø Karena
setiap orang sejatinya bisa menjadi pengubah bagi diri sendiri dan
lingkungannya. Dengan menjadi guru muda inilah saatnya jadi tahu, lebih peduli,
lalu berbuat aksi nyata. Inilah tangga untuk mengabdi pada indonesia. Inilah
mengenal negeri ini dari sudut yang berbeda. Nikmati, alami, dan lalui
pengalamannya secara langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar